30 September 2022

Dimensi.id-STOP GLOBAL WARMING” adalah slogan yang digaungkan di seluruh tempat di muka bumi ini.Gerakan ‘matikan lampu selama sejam’ diberlakukan di beberapa tempat.Slogan dan gerakan tersebut diharapkan agar penduduk bumi ((read : manusia) dapat menyayanginya. Namun itu hanya sebatas slogan, gerakan tersebut hanya dilaksanakan sesaat dan tak mampu membuat penduduk bumi  merasa cinta terhadap bumi dan berhenti ‘merusak’ alam.

Mungkin ya, ada segelintir orang atau kelompok yang menyadari kemudian berupaya merawat dan menjaga lingkungan agar tetap asri dan ‘bahagia’. Tetapi mereka yang tak puas akan kekayaan diri, industri-industri raksasa yang tidak henti-hentinya memanaskan bumi dan udara, serta sumbangsih polutan milyaran kendaraan bermotor yang mengotori udara.

Sungguh, mereka para kapitalis yang tidak pernah merasa berkecukupan merauk, menimbun dan memanipulasi kekayaan alam menjadi kekayaan pribadi dan golongan. Tidak peduli alam tempat mereka tinggal menjadi rusak parah dan menjadikannya ‘tempat sampah’. Sangat mengerikan!

Bumi lelah, tak lagi sehat. Kini ia memanas, lapisan ozon yang menipis, lapisan es di kutub utara dan selatan mulai mencair. Keseimbangannya mulai goyah. Bukan tanpa upaya keadaan ini diperbaiki, namun ternyata perusak lebih banyak jumlahnya. Bukan karena mereka tidak mengetahui, mengingat informasi keadaan ini diberitakan di berbagai media.

Lagi-lagi keserakahan para kapitalis  yang tidak peduli akan keseimbangan, kebersihan, keutuhan dan kelestarian akan bumi dan kehidupan.Hutan, yang sejatinya organ vital tempat bumi bernafas, mereka babad sehasta demi sehasta bahkan jutaan hektare untuk memuaskan dahaga materialistis dan kekuasaan.Gunung, mereka gunduli, mereka ratakan bahkan mereka lubangi untuk memenuhi rasa lapar yang tak pernah mengenyangkan.

Kini, ketika makar besar wabah Virus Corona di sebagian besar penjuru bumi, ya… ternyata hanya dia yang mampu membuat penghuni bumi diam, kalah, gontai. Seketika itu perekonomian di berbagai negara lumpuh, polusi  Industri dan kendaraan bermotor berkurang.

Banyak hikmah dari wabah ini. Manusia menjadi (setidaknya) lebih menyayangi dirinya, menyadari bahwa memelihara kebersihan dan kesehatan diri begitu berharga, kedekatan dengan anggota keluarga dapat terjalin secara maksimal, menjaga diri dari pergaulan di luar batas, serta banyak lagi hikmah lainnya. Namun, tahukah di luar itu semua masih ada satu hikmah yang tidak kita sadari. Tersebab makar besar wabah virus corona juga, kini bumi sedang menyembuhkan dirinya. Lapisan ozon perlahan mulai menebal kembali, lapisan es di kutub utara dan selatan kembali terbentuk.

Seperti yang terjadi di Jakarta, Indonesia. setelah diberlakukannya Work Form Home , kualitas udara membaik seiring dengan minimnya aktivitas ibu kota.

Semoga atas kejadian ini, menjadi sebab bagi manusia untuk bermuhasabah. Betapa Allah SWT menciptakan bumi, langit dan segala isinya dengan tujuan yang baik. Seperti dalam Firman-Nya dalam QS. Al-Ahqaf ayat 3 yang artinya :

“Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan”.

Ya, rencana Allah SWT memang sempurna, MaaSyaa Allah.

Wallaahu a’lam bishawaab.[ia]

Penulis : Widya Astorina, S.Kom., M.Pd. – Praktisi Pendidikan

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: